Di tengah arus globalisasi yang menuntut kecepatan, keberanian dan daya saing lintas batas, kepastian hukum justru menjadi fondasi yang tak tergantikan. Tanpa pijakan hukum yang kuat, pertumbuhan bisnis mudah rapuh dan kehilangan arah. Bagi Ovienov Ameliasari Prawita, hukum bukan sekadar aturan yang membatasi, melainkan titik awal untuk menciptakan dampak yang lebih luas bahkan hingga ke panggung global. Di sanalah logika hukum bertemu dengan naluri bisnis, melahirkan keputusan yang bukan hanya berani, tetapi juga berkelanjutan.
Sebagai lawyer, konsultan hukum, sekaligus entrepreneur, Ovienov Ameliasari Prawita atau akrab disapa Ovien berada di persimpangan dua dunia yang sama-sama dinamis. Dunia hukum menuntut ketepatan dan kepastian, sementara dunia bisnis menuntut keberanian membaca peluang di tengah ketidakpastian. Alih-alih memilih salah satu, Ovien justru menjadikan keduanya sebagai kekuatan yang saling melengkapi.
Dengan latar belakang pendidikan hukum dari Universitas Padjadjaran dan Magister Hukum Bisnis Universitas Gadjah Mada, Ovien membangun cara pandang yang khas dimana hukum harus hadir sebagai fondasi strategis dalam pengambilan keputusan bisnis. Dari perspektif inilah perjalanan profesional dan kewirausahaannya berkembang, bukan hanya untuk tumbuh, tetapi untuk menciptakan dampak yang relevan secara global.
Melangkah ke Dunia Strategis. Meski berasal dari lingkungan keluarga dengan latar belakang ekonomi, ketertarikan Ovien pada bidang hukum tidak pernah surut. Pilihan ini mencerminkan ketertarikannya pada peran hukum sebagai fondasi strategis dalam dunia usaha.

”Sejak awal, saya melihat hukum bukan hanya sebagai seperangkat norma, tetapi sebagai instrumen penting dalam membangun kepastian, mengelola risiko dan menopang pertumbuhan bisnis jangka panjang,” tutur wanita kelahiran 5 November 1994 ini.
Semasa duduk di bangku perkuliahan, Ovien aktif mencurahkan gagasan dan terlibat dalam berbagai aktivitas di luar kelas. Salah satu pengalaman pentingnya adalah saat ia dipercaya menjadi Vice President di sebuah platform media partnership yang kala itu berhasil menarik perhatian Tech in Asia.
Pengalaman ini menjadi titik awal baginya untuk memahami dinamika dunia bisnis, teknologi dan kolaborasi lintas sektor. Di fase inilah benih global mindset mulai tumbuh, bahwa praktik profesional ke depan tidak bisa dilepaskan dari konteks global, inovasi dan jejaring yang luas.
Menjadi Praktisi Hukum di Tengah Dinamika Korporasi
Setelah menamatkan pendidikan sarjana, Ovien memulai karier profesionalnya di dunia hukum, baik dalam praktik litigasi maupun hukum korporasi. Ia berkesempatan belajar langsung di firma hukum serta holding korporasi, yang memberinya pemahaman mendalam mengenai dinamika pengambilan keputusan strategis di level korporasi besar.
Pengalaman ini membentuk cara pandangnya bahwa hukum tidak berdiri sendiri. Dalam praktiknya, hukum selalu beririsan dengan kepentingan bisnis, tata kelola perusahaan, serta tuntutan kepatuhan yang semakin kompleks, terutama di era globalisasi.

Pada pertengahan tahun 2021, di usia 26 tahun, Ovien mengambil langkah besar dengan mendirikan AGRA Advocate & Legal Counsel. Keputusan ini bukanlah pilihan yang mudah. Ia tidak hanya berperan sebagai Lawyer, tetapi juga sebagai Entrepreneur yang dituntut konsisten membangun layanan hukum dengan pendekatan bisnis.
Fokus AGRA diarahkan pada penyelesaian sengketa bisnis, termasuk isu kekayaan intelektual. Dalam perjalanannya, Ovien memosisikan hukum sebagai risk management tool, bukan penghambat inovasi, melainkan fondasi kepastian. Setiap keputusan bisnis dimulai dengan pemetaan risiko hukum, lalu diimbangi dengan naluri bisnis untuk menentukan langkah yang berani namun terukur.
“Keberanian dalam bisnis harus didasarkan pada perhitungan yang matang, bukan spekulasi,” tekan Ovien.
Ekspansi Bisnis. Keseriusan Ovien dalam membangun ekosistem bisnis berlanjut pada tahun 2022 dengan pembentukan Askara Group, yang membawahi beberapa brand lintas sektor usaha. Langkah ini mempertegas perannya sebagai Entrepreneur yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada penciptaan nilai jangka panjang.
Seluruh perjalanan ini membentuk keyakinannya bahwa hukum, bisnis, dan dampak sosial dapat berjalan beriringan. Pertumbuhan ekonomi, menurutnya, harus dibangun di atas kepatuhan hukum, tata kelola yang baik, serta tanggung jawab sosial.
Kekayaan Intelektual dan Peran Edukatif
Ketertarikan Ovien pada isu kekayaan intelektual tidak berhenti pada praktik profesional. Kepedulian mendorongnya aktif berdialektika dengan pelaku usaha dan masyarakat luas. Pada tahun 2024, ia menulis buku “The Power of Trademark”, sebagai bentuk kontribusinya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan merek di tengah persaingan global.
”Cara berpikir global saya benar-benar terasah ketika saya menangani dan membahas persoalan hukum yang tidak hanya tunduk pada hukum nasional, tetapi juga beririsan dengan standar dan praktik internasional,” terangnya.
Ovien juga kerap dipercaya menjadi dosen tamu di berbagai universitas serta terlibat dalam forum nasional dan lintas komunitas hukum dan bisnis. Baginya, peran seorang Lawyer tidak hanya menyelesaikan persoalan hukum, tetapi juga mengawal pelaku usaha agar siap bersaing di pasar global dengan fondasi yang kuat.
Global Mindset di Dua Dunia yang Dinamis
Berprofesi sebagai Lawyer dan Entrepreneur menempatkan Ovien di dua dunia yang sama-sama dinamis. Baginya, global mindset adalah cara berpikir lintas batas, tidak hanya geografis, tetapi juga budaya, regulasi, dan perspektif.
Sebagai Lawyer, global mindset berarti memahami bahwa praktik hukum hari ini sangat dipengaruhi oleh standar internasional, mulai dari investasi, perdagangan, hingga kepatuhan dan tata kelola. ”Hal inilah yang menuntut saya sebagai seorang Lawyer untuk adaptif, terbuka terhadap perbandingan sistem hukum, serta mampu menerjemahkan kepentingan klien ke dalam kerangka yang dapat diterima secara global tanpa mengabaikan kepastian hukum nasional,” ujar Ovien.
Di sampaing itu, dengan profesinya sebagai Entrepreneur, Ovine juga didorong untuk berani berpikir strategis, membaca peluang lintas pasar dan membangun nilai yang berkelanjutan. ”Dunia usaha bergerak cepat dan kompetitif, sehingga para pelaku usaha dituntut untuk memiliki perspektif nyata, inovatif, serta sensitif terhadap perubahan global baik teknologi, ekonomi, maupun regulasi,” imbuhnya.
Dan di tengah persaingan global, Ovien menyeimbangkan logika hukum dengan naluri bisnis melalui integrasi keduanya dalam setiap pengambilan keputusan. Logika hukum memberinya ketepatan dan kehati-hatian, sementara naluri bisnis memberinya kecepatan dan keberanian.
”Pendekatan ini memungkinkan saya untuk bergerak cepat tanpa kehilangan akurasi. Karena keputusan yang saya ambil bukan hanya tentang keberanian, tetapi juga keberkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya
Berbicara mengenai global impact, Ovien menyadari hal tersebut tidak semata diukur dari skala ekspansi atau pertumbuhan finansial. Dampak global yang ideal adalah ketika bisnis mampu menciptakan nilai yang relevan secara internasional, sekaligus membawa identitas, integritas dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Prinsip Hidup sebagai Kompas Keputusan
Dalam setiap langkah besar, Ovien berpegang pada tiga prinsip utama, yakni integritas, tanggung jawab dan keberanian yang terukur. Dari sudut pandangnya sebagai Lawyer, integritas menjaga kepercayaan dan independensi. Sedangkan dari sisi Entrepreneur, tanggung jawab memastikan bahwa setiap keputusan memberi dampak positif bagi ekosistem.
Prinsip inilah yang menjadi kompasnya dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah, menjaga agar setiap langkah tetap tepat arah, relevan, dan bermakna. ”Saya percaya bahwa reputasi dibangun dari konsistensi panjang dalam memegang prinsip, bahkan ketika pilihan tersebut tidak selalu mudah. Karena itu, saya menghindari keputusan yang hanya menguntungkan secara jangka pendek tetapi berisiko merusak keberlanjutan,” jelasnya.
Integritas sebagai Jangkar di Tengah Arus Global
Di tengah dunia global yang menuntut adaptasi cepat terhadap standar internasional, kerja lintas budaya, dan persaingan yang semakin dinamis, Ovien meyakini satu bekal utama yang tidak boleh hilang, yakni integritas yang berakar pada nilai dan jati diri.
Menurutnya, adaptasi tanpa pijakan nilai justru berisiko mengaburkan arah dan tujuan. Integritas menjadi jangkar yang memastikan setiap keputusan dan kolaborasi tetap selaras dengan etika, hukum, serta nilai profesional yang dipegang. Dengan latar belakang pendidikan hukum dan pengalaman langsung di bidang hukum dan bisnis, Ovien melihat bahwa jati diri tidak pernah bertentangan dengan standar global.
Justru sebaliknya, jati diri yang kuat membangun kepercayaan. Profesionalisme, komitmen pada kepastian hukum, serta cara pandang yang solutif adalah nilai-nilai yang dapat dibawa dari Indonesia ke tingkat global. Bekal inilah yang memungkinkan dirinya bergerak dinamis mengikuti perubahan, membangun kolaborasi lintas batas dan menciptakan dampak tanpa harus mengorbankan prinsip dan tujuan jangka panjang. ”Integritas bukanlah penghambat adaptasi, melainkan fondasi yang menjadikan adaptasi sebagai kekuatan, bukan kompromi,” tutup Ovien.